04 Mei 2013

DARWIN 5


Kebijakan Biadab Pendukung Rasisme-Darwinisme
Pemusnahan Warga Aborigin

Penduduk asli benua Australia dikenal dengan sebutan Aborigin. Orang-orang yang telah mendiami benua tersebut selama ribuan tahun mengalami salah satu pemusnahan terbesar sepanjang sejarah seiring dengan penyebaran para pendatang Eropa di benua tersebut. Alasan ideologis pemusnahan ini adalah Darwinisme. Pandangan para ideolog Darwinis tentang suku aborigin telah memunculkan teori kebiadaban yang harus diderita mereka.
Pada tahun 1870, Max Muller, seorang antropolog evolusionis dari London Anthropological Review, membagi ras manusia menjadi tujuh tingkatan. Aborigin berada di urutan terbawah, dan ras Arya, yaitu orang kulit putih Eropa, di urutan teratas. H.K. Rusden, seorang Darwinis Sosial terkenal, mengemukakan pendapat-nya tentang suku aborigin pada tahun 1876 sebagaimana berikut:
Kelangsungan hidup bagi yang terkuat memiliki arti: kekuatan adalah kebenaran. Dan dengan demikian kita gunakan hukum seleksi alam yang tidak pernah berubah tersebut dan menerapkannya tanpa perasaan belas kasih ketika memus-nahkan ras-ras terbelakang Australia dan Maori...dan kita rampas warisan leluhur mereka tanpa merasa bersalah. 32
Pada tahun 1890, Wakil Presiden Royal Society of Tasmania, James Barnard, menulis: “proses pemusnahan adalah sebuah aksioma hukum evolusi dan keberlangsungan hidup bagi yang terkuat.” Oleh sebab itu, ia menyimpulkan, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa “ada tindakan yang patut dicela” dalam pembunuhan dan perampasan terhadap warga aborigin Australia.33
Akibat pandangan rasis, yang tak mengenal belas kasih, dan biadab yang dikemukakan Darwin, pembantaian dasyat dimulai dengan tujuan memusnahkan warga aborigin. Kepala orang-orang aborigin dipasang menggunakan paku di atas pintu-pintu stasiun. Roti beracun diberikan kepada para keluarga aborigin. Di banyak wilayah di Australia, areal pemukiman aborigin musnah dengan cara biadab dalam waktu 50 tahun.34
Kebijakan yang ditujukan terhadap aborigin tidak berakhir dengan pembantaian. Banyak dari ras ini yang diperlakukan layaknya hewan percobaan. The Smithsonian Institute di Washington D.C. menyimpan 15.000 sisa mayat manusia dari berbagai ras. Sejumlah 10.000 warga aborigin Australia dikirim melalui kapal ke Musium Inggris dengan tujuan untuk mengetahui apakah benar mereka adalah “mata rantai yang hilang” dalam peralihan bentuk binatang ke bentuk manusia.
Musium tidak hanya tertarik dengan tulang-belulang, pada saat yang sama mereka menyimpan otak orang-orang aborigin dan menjualnya dengan harga mahal. Terdapat pula bukti bahwa warga aborigin Australia dibunuh untuk digunakan sebagai bahan percobaan. Kenyataan sebagaimana dipaparkan di bawah ini adalah saksi kekejaman tersebut:
Sebuah catatan akhir hayat dari Korah Wills, yang menjadi mayor Bowen, Queensland pada tahun 1866, secara jelas menggambarkan bagaimana ia membunuh dan memotong-motong tubuh seorang anggota suku setempat pada tahun 1865 untuk menyediakan bahan percobaan ilmiah.
Edward Ramsay, kepala Musium Australia di Sydney selama 20 tahun sejak 1874, terlibat secara khusus. Ia menerbitkan sebuah buku saku Musium yang memasukkan aborigin dalam golongan “binatang-binatang Australia”. Buku kecil tersebut itu juga memberikan petunjuk tidak hanya tentang cara bagaimana merampok kuburan, namun juga bagaimana menutup luka akibat peluru pada “spesimen” yang baru terbunuh.
Evolusionis Jerman, Amalie Dietrich (yang dijuluki ‘Angel of Black Death’ atau ‘Malaikat Kematian si Hitam’) datang ke Australia untuk meminta kepada para pemilik areal pertanian sejumlah orang Aborigin untuk ditembak dan digunakan sebagai spesimen, terutama kulitnya untuk diisi dengan bahan tertentu untuk kemudian dipajang, untuk diberikan kepada atasannya di Museumnya. Meskipun barang-barangnya telah dirampas, ia dengan segera balik ke negaranya sambil membawa sejumlah spesimennya.
Misionaris New South wales adalah saksi yang merasa ngeri terhadap pembantaian yang dilakukan oleh polisi berkuda terhadap sekelompok yang beranggotakan lusinan orang aborigin, perempuan dan anak-anak. Empat puluh lima kepala kemudian direbus dan 10 tengkorak terbaiknya dibungkus dan di kirim ke luar negeri. 35
Pemusnahan suku aborigin berlanjut hingga abad ke-20. Di antara cara yang dipergunakan dalam pemusnahan ini adalah pengambilan paksa anak-anak aborigin dari keluarga mereka. Kisah baru oleh Alan Thornhill, yang muncul di Philadelphia Daily News edisi 28 April 1997, mengisahkan perlakuan terhadap suku aborigin sebagai berikut:

KISAH PENCULIKAN KELUARGA ABORIGIN


Associated Press – Warga aborigin yang tinggal di gurun pasir terpencil Australia di sebelah barat laut terbiasa mencorengkan arang pada kulit anak-anak mereka yang berwarna terang, dengan maksud mencegah para petugas kesejahteraan negara membawa mereka pergi. “Para petugas kesejahteraan tersebut menangkap anda begitu saja ketika mereka menemukan anda,” ujar seorang anak yang pernah diculik, bertahun-tahun kemudian. “Warga kami akan menyembunyikan kami dengan mewarnai kami menggunakan arang.”
“Saya dibawa ke Moola Bulla”, ucap salah seorang pekerja yang diculik ketika masih kanak-kanak. “Saat itu kami berusia sekitar 5 atau 6 tahun.” Kisahnya ini adalah satu di antara ribuan yang didengar oleh Australia’s Human Rights And Equal Opportunity Commission (Komisi Hak Asasi Manusia Australia) selama pemeriksaan yang memilukan tentang “generasi yang dicuri”. Dari tahun 1910 hingga 1970-an sekitar 100.000 anak-anak aborigin diambil dari para orang tua mereka... Anak-anak berkulit terang dirampas dan diserahkan kepada keluarga kulit putih untuk dijadikan anak angkat. Anak-anak berkulit gelap ditempatkan di panti asuhan. 36


Inilah alasan mengapa penemuan manusia

Piltdown membangkit-kan kegembiraaan luar biasa di Inggris. Koran-koran menampilkannya sebagai judul utama, dan kerumunan masyarakat bersuka cita merayakan penemuan tersebut. Pemerintah Inggris bahkan memberi gelar kesatria kepada Arthur Keith untuk penemuannya.
Ahli paleontologi evolusionis terkenal, Don Johanson, menjelaskan kaitan antara manusia Piltdown dan imperialisme Inggris:
Penemuan Piltdown sangat Eurosentris. Tidak hanya otaknya yang memiliki “keunggulan”, tapi bangsa Inggris juga memiliki keunggulan.*
Inspirasi yang didapatkan Inggris dari penemuan manusia Piltdown berlangsung hanya hingga tahun 1953, ketika Kenneth Oakley, ilmuwan yang memeriksa ulang fosil tersebut dengan lebih teliti, mengungkapnya sebagai pemalsuan terbesar abad ke-20. Fosil tersebut dibuat dengan merekatkan rahang orang utan pada tengkorak manusia.
*Don Johnson, In Search of Human Origins, 1994 WHGB Educational Foundation


Pertunjukan Manusia dan Kera Tidak
Direstui Kalangan Pendeta

Pdt. Dr. MacArthur Menganggap Pertunjukan Tersebut Merendahkan Martabat
“Orang yang bertanggung jawab atas tontonan ini telah merendahkan martabat dirinya sendiri sebagaimana perlakuaannya terhadap orang Afrika tersebut,” kata Dr. MacArthur, “Daripada memperlakukan saudara kecil ini sebagai seekor binatang, ia sepatutnya dimasukkan ke sekolah untuk mengembangkan kemampuan sebagaimana yang telah Tuhan karuniakan kepadanya”.
Dr.Gilbert mengatakan dirinya telah memutuskan bahwa tontonan tersebut merupakan bentuk kebiadaban dan bahwa ia dan para pastur lainnya akan bergabung dengan Dr. MacArthur demi memperjuangkan agar Ota Benga dibebaskan dari kandang kera dan diletakkan di tempat lain.41
Akhir dari segala perlakuan tidak manusiawi ini adalah tindakan bunuh diri Ota Benga. Tetapi di sini, permasalahannya lebih besar dari sekedar hilangnya nyawa seorang manusia. Kejadian ini merupakan contoh nyata dari kekejaman dan kebiadaban yang dimunculkan dalam kehidupan oleh rasisme para pendukung Darwinisme.

KEMULIAAN BERSUMBER DARI AKHLAK, DAN BUKAN DARI RAS ATAU KETURUNAN


Darwin menggambarkan manusia sebagai spesies binatang yang berkembang. Ia juga mengemukakan bahwa sejumlah ras belum menyempurnakan perkembangan mereka, dan sebagai spesies yang lebih dekat kepada binatang. Dalam sejarah umat manusia, semua gagasan ini terbukti sangat berbahaya dan bersifat menghancurkan. Mereka yang telah menjadikan pernyataan Darwin sebagai pedoman hidup mereka telah menindas ras-ras lain tanpa belas kasih, memaksa mereka hidup dalam keadaan yang sangat sulit, dan bahkan memusnakan mereka.
Bryan Appleyard, penulis buku Brave New Worlds, menjelaskan sifat bengis yang mendasari rasisme, beserta akibatnya, sebagaimana berikut:
Intinya adalah bahwa sekali orang menganggap anda sebagai makhluk yang rendah dengan dalih apapun, entah takhayul atau ilmiah, tampaknya tidak ada batas sekejam apa tindakan yang mungkin mereka lakukan terhadap anda. Dan mereka sangat mungkin akan melakukan kekejaman tersebut setelah merasa mendapatkan pembenaran secara penuh, karena ini merupakan tahapan kecil dari meyakini manusia lain sebagai kelas rendah kepada meyakini bahwa ia buruk, berbahaya, atau merupakan ancaman terhadap manusia kelas ‘unggul’. Bahkan, sebagian orang mungkin memberlakukan hal ini secara lebih umum dan menegaskan bahwa semua yang tergolong ‘rendah’ adalah berbahaya karena mengancam kehidupan atau kesehatan seluruh ras manusia. Lalu mereka dapat menganjurkan sterilisasi, pembatasan perkawinan, atau bahkan pembunuhan demi mencegah ancaman dari orang-orang yang tersingkir ini terhadap keutuhan spesies tersebut. 42
Sesungguhnya, semua manusia diciptakan sama. Setiap orang diciptakan oleh Allah (Tuhan). Alquran menjelaskan penciptaan manusia sebagaimana berikut:

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur! (QS. As Sajdah, 32:7-9)

Sebagaimana diungkap dalam ayat di atas, manusia memiliki ruh yang Allah tiupkan ke dalam diri mereka. Setiap manusia dari ras manapun berpikir, merasakan, mencintai, menderita, merasakan kegembiraan, memahami perasaan cinta, kasih sayang, dan haru. Setiap orang juga mengetahui kekejaman, kehinaan, dan kesusahan. Dengan demikian, sepanjang sejarah, mereka yang memyakini manusia dari ras-ras lain sebagai binatang yang belum sepenuhnya berkembang dan menganiaya mereka; mereka yang menyakiti, menindas, memeras walau hanya satu orang; dan mereka yang mendukung segala tindakan ini dengan bukti dan teori palsu yang mereka buat telah melakukan dosa besar dikarenakan kebodohan mereka.
Di masa kini masih terdapat budaya dari masyarakat manusia yang relatif belum berkembang. Orang-orang ini memiliki seluruh sifat kemanusiaan, akan tetapi mereka tidak memiliki ciri-ciri yang, dipandang dari sisi teknik dan budaya, umumnya berlaku di seluruh dunia. Iklim dan kondisi alam di mana mereka tinggal telah menyebabkan banyak masyarakat hidup terisolasi dari masyarakat dunia pada umumnya, dan mereka telah membangun budaya yang sangat berbeda. Tetapi pada setiap masyarakat ini terdapat semua ciri, adat-istiadat, dan kebiasaan yang secara umum berlaku bagi seluruh umat manusia. Mereka yang memiliki rencana tersembunyi, dan yang diuntungkan dengan adanya rasisme, bersemangat dalam mengimani teori Darwin. Mereka menganggap orang-orang yang terisolasi tersebut, yang sebenarnya tidak berbeda dengan manusia-manusia lainnya, sebagai anggota ras rendah, bahkan sebagai binatang. Akibat berpandangan seperti ini, bahkan di masa kita, muncullah orang-orang yang menindas dan memandang hina manusia serta masyarakat terbelakang dengan berdalih bahwa mereka belum cukup berevolusi.
Akan tetapi Allah benar-benar mengharamkan rasisme. Allah menciptakan setiap manusia dengan warna kulit dan bahasanya yang berbeda-beda. Ini adalah tanda kesempurnaan dan keberagaman ciptaan Allah:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Ar Ruum, 30:22)

Dalam pandangan Allah, satu-satunya keunggulan dan kemuliaan manusia terletak pada sifat, kemampuannya menghindari segala bentuk perbuatan dosa, kedurhakaan, kebejatan dan perilaku menyimpang, dan akhlak mulia yang bersumber pada ketakwaannya. Selain ketakwaan, tak seorang manusiapun dapat memiliki.

KAITAN ERAT ANTARA DARWIN DAN FASISME

Aliansi Berdarah Antara Darwin dan Hitler

N azisme lahir di tengah kekacauan di Jerman yang menderita kekalahan dalam perang dunia pertama. Pemimpin partai ini adalah Adolf Hitler, sosok pemarah dan agresif. Rasisme melandasi cara pandang Hitler terhadap dunia. Ia meyakini Arya, yang merupakan ras utama bangsa Jerman, sebagai ras paling unggul di atas semua ras lain, sehingga sudah sepatutnya memimpin mereka. Ia memimpikan bahwa ras Arya akan mendirikan imperium dunia yang akan bertahan selama 1000 tahun.
Landasan ilmiah yang digunakan Hitler bagi teori rasis ini adalah teori evolusi Darwin. Tokoh utama yang mempengaruhi pemikiran Hitler, yakni sejarawan rasis Jerman Herinrich Von Treitschke, sangat dipengaruhi teori evolusi Darwin dan mendasarkan pandangan rasisnya pada Darwinisme. Ia sering berkata, “Bangsa-bangsa hanya mampu berkembang melalui persaingan sengit sebagaimana gagasan Darwin tentang kelangsungan hidup bagi yang terkuat,” dan memaklumkan bahwa ini berarti peperangan tanpa henti yang tak terhindarkan. Ia berpandangan bahwa, “Penaklukan dengan pedang adalah cara untuk membangun peradaban dari kebiadaban dan ilmu pengetahuan dari kebodohan.” Ia berpendapat, “Ras-ras kuning tidak memahami ketrampilan seni dan kebebasan politik. Sudah menjadi takdir ras-ras hitam untuk melayani bangsa kulit putih dan menjadi sasaran kebencian orang kulit putih untuk selamanya...”43
Saat membangun teorinya, Hitler, sebagaimana Treitschke, mendapatkan ilham dari Darwin, terutama gagasan Darwin tentang perjuangan untuk bertahan hidup. Judul bukunya yang terkenal, yakni Mein Kampf (Perjuangan Saya), telah terilhami oleh gagasan tersebut. Seperti halnya Darwin, Hitler memberikan status kera pada ras selain Eropa, dan mengatakan, “Singkirkan bangsa Jerman Nordik dan tidak ada yang tersisa kecuali tarian para kera”.44
   Dalam rapat umum partai pada tahun 1933 di Nuremberg, Hitler mengatakan bahwa, “ras yang lebih tinggi menjajah yang kita saksikan di alam dan yang dapat dianggap sebagai satu-satunya kebenaran yang mungkin,” karena didasarkan pada ilmu pengetahuan.45
Hitler, yang meyakini keunggulan ras Arya, mempercayai keunggulan tersebut sebagai pemberian alam. Dalam buku Mein Kampf ia menulis sebagai berikut:
Orang-orang Yahudi membentuk ras pesaing lebih rendah di bawah manusia, yang telah ditakdirkan oleh warisan biologis mereka sebagai yang terhina, sebagaimana ras Nordik telah dinobatkan sebagai yang terhormat… Sejarah akan berpuncak pada sebuah imperium milenium baru dengan kemegahan yang tiada tara, yang berlandaskan pada hirarki baru berdasarkan ras sebagaimana ketentuan alam itu sendiri.46
Hitler, yang menganggap manusia sebagai jenis binatang yang sangat maju, percaya bahwa untuk mengatur proses evolusi, diperlukan pengambil-alihan kendali proses tersebut ke tangannya sendiri dalam rangka membangun ras manusia Arya, daripada membiarkannya diatur oleh kekuatan alam dan peristiwa kebetulan. Dan inilah tujuan akhir pergerakan Nazi. Untuk mewujudkan tujuan ini, langkah awalnya adalah memisahkan, dan mengucilkan ras-ras lebih rendah dari ras Arya yang dianggap paling unggul.
Di sinilah Nazi mulai menerapkan Darwinisme dengan mengambil contoh dari “teori eugenika” yang bersumber pada Darwinisme.


Teori Eugenika Didasarkan pada Gagasan Darwin

Teori eugenika muncul di pertengahan awal abad ke-20. Eugenika berarti membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta “memperbaiki” ras manusia dengan memperbanyak jumlah individu sehat. Sebagaimana hewan jenis unggul dapat dibiakkan dengan mengawinkan induk-induk hewan yang sehat, maka berdasarkan teori ini ras manusia pun dapat diperbaiki melalui cara yang sama.
Seperti telah diduga, yang memunculkan program eugenika adalah para Darwinis. Para pemuka pergerakan eugenika di Inggris adalah sepupu Charles Darwin, Francis Galton, dan anaknya Leonard Darwin.
Telah jelas bahwa gagasan eugenika merupakan akibat alamiah Darwinisme. Bahkan, kebenaran tentang eugenika ini mendapatkan tempat istimewa dalam berbagai penerbitan yang mendukung eugenika, “Eugenika adalah pengaturan mandiri evolusi manusia”, bunyi salah satu tulisan tersebut.
Kenneth Ludmerer, ahli sejarah kedokteran di Washington University, mengemukakan bahwa gagasan eugenika seusia dengan gagasan Republik Plato, tapi ia juga menambahkan bahwa Darwinisme merupakan penyebab munculnya ketertarikan terhadap gagasan eugenika di abad ke-19:
…pemikiran eugenika modern muncul hanya pada abad ke-19. Adanya ketertarikan terhadap eugenika selama abad itu disebabkan oleh banyak hal. Di antara yang terpenting adalah teori evolusi, sebab gagasan Francis Galton tentang eugenika – dan dialah yang menciptakan istilah eugenika – adalah akibat logis langsung dari doktrin ilmiah yang dikemukakan sepupunya, Charles Darwin.47
Di Jerman, orang pertama yang terpengaruh dan kemudian menyebarkan teori eugenika adalah ahli biologi evolusionis terkenal Ernst Haeckel. Haeckel adalah teman dekat sekaligus pendukung Darwin. Untuk mendukung teori evolusi, ia mengemukakan teori “rekapitulasi”, yang menyatakan bahwa embrio dari berbagai makhluk hidup menyerupai satu sama lain. Di kemudian hari diketahui ternyata Haeckel telah memalsukan data ketika memunculkan pendapatnya ini.
Selain membuat pemalsuan ilmiah, Haeckel juga menyebarkan propaganda eugenika. Ia menyarankan agar bayi cacat yang baru lahir segera dibunuh karena hal ini akan mempercepat evolusi pada masyarakat manusia. Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan para penderita lepra dan kanker serta yang berpenyakit mental harus dibunuh dengan tanpa ada masalah, sebab jika tidak, mereka akan membebani masyarakat dan memperlambat evolusi.
Peneliti Amerika George Stein berkesimpulan tentang dukungan buta Haeckel terhadap teori evolusi dalam artikelnya di majalah American Scientist sebagai berikut:
…[Haeckel] berpendapat bahwa Darwin benar…manusia, tanpa perlu dipertanyakan lagi, berevolusi dari dunia hewan. Demikianlah, dari sini langkah maut telah diambil saat Haeckel pertama kali mengemukakan Darwinisme ke seluruh penjuru Jerman, keberadaan manusia secara sosial dan politik dikendalikan oleh hukum-hukum evolusi, seleksi alam, dan biologi, sebagaimana dikemukakan secara jelas oleh Darwin. Untuk berpendapat sebaliknya adalah pandangan takhayyul yang ketinggalan zaman.48


 

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking